Info Politeknik
Selasa, 18 Jun 2024
  • Pendaftaran Mahasiswa Baru Tahun Ajaran 2022/2023 dilaksanakan pada Bulan Desember 2021. Manfaat Diskon SPP Semester dan Beasiswa Lainnya. Silahkan hubung 08239649999

5 Alasan Mengapa Susah Berubah menjadi Lebih Baik !

Diterbitkan :

“Banyak Orang Ingin Mengubah dirinya menjadi lebih baik, tetapi ia Tak kenal terhadap dirinya. Lantas apa yang diubah?”

            Kalimat tersebut sangat tepat menggambarkan manusia pada umumnya. Setiap Malam pergantian tahun  baru selalu dirayakan dengan penuh suka cita. Semua orang di belahan dunia merayakan tepat pada pukul 00.00 waktu setempat dan tak lupa mereka membuat resolusi baru untuk kehidupannya di Tahun baru tersebut. Tiap Tahun budaya membuat resolusi itu selalu dilakukan walaupun hanya bertahan paling lama 7 hari sudah lupa dengan resolusi tersebut. Dan uniknya lagi mereka buat lagi di akhir tahun menjelang pergantian tahun tanpa merasa bersalah karena resolusi yang sebelumnya belum tercapai. Banyak orang tidak menyadari bahwa dia masih melakukan resolusi tanpa mendalami resolusi tersebut dengan benar, melainkan hanya sekedar ikut-ikutan budaya saja. Hasilnya hanya sekedar dimulut saja atau di tempelan kerta di tembok. Mengapa hal itu bisa terjadi?. Karena mereka ingin mengubah dirinya menjadi lebih baik tetapi mereka tidak mengenal sesuatu yang ada didalam dirinya. Mereka tidak melihat bahwa dirinya sebenarnya masih punya gejala penyakit gaib yang sudah menjadi kebiasaan dalam dirinya. Penyakit gaib itu yang membuat dirinya tak mampu mencapai resolusi di setiap tahunnya. Penyakit gaib itulah yang menyebabkan dia susah menjadi personal excellence di setiap waktu. Apa itu penyakit gaib tersebut. Tak lain dan tak bukan adalah Alasan-alasan pembenaran yang tumbuh subur di dalam dirinya. Alasan ini menjadi penyebab susah nya dia dalam mendesign strategi pencapai terhadap resolusi dirinya. Alasan pembenaran inilah yang membuat dia susah menjadi personal excellence.

“Personal Excellence itu memperbanyak karya, bukan memperbanyak alasan pembenaran pada dirinya”


Apa saja alasan pembenaran yang sering kali ditemukan pada manusia?. Berikut yang sering saya temukan dikalangan client saya, bahkan diri saya pribadi kala itu.

  • Ngurusin hidup sendiri aja masih susah, ngapain ngurusin hidup orang lain

Di seminar saya untuk kalangan corporate, saya sering bertemu dengan banyak karyawan di perusahaan tersebut. Ketika saya bertanya terkait sebuah target tertentu mereka kebanyakan menjawab “Ngurusin hidup dan kerjaan sendiri aja masih belum selesai mas, ngapain ngurusin yang lainnya”. Saya tersenyum medengar jawaban tersebut. Jawaban tersebut menjadi alasan pembenaran dari kemalasan dirinya. Hal tersebut justru menjadikan kemalasan semakin kuat didalam dirinya. Karena adanya faktor limiting belief yang mendukungnya. Mereka Egois hanya berfikir tentang dirinya dan mengabaikan factor luar yang mungkin didalamnya terdapat kesuksesan baginya

  • Tidak ada waktu

Jawaban ini adalah jawaban klasik yang sudah banyak orang mengatakannya. Tidak adanya waktu. Saya sendiripun termasuk orang yang dulu sering menjadikan ini sebagai alasan pembenaran terhadap kelalain tugas-tugas saya. Hingga akhirnya saya tertampar oleh salah satu mentor saya bahwa sesungguhnya tidak ada waktu yang terbuang sia-sia kecuali orang tersebut bodoh dalam mengatur jadwalnya. Tidak ada orang sibuk, yang ada hanya orang yang tidak pandai mengatur waktunya. Hal ini langsung saya terapkan sebagai penilaian kinerja pada team dan karyawan saya. Jika target harian tidak bisa dikerjakan dalam waktu yang ditetapkan dan bahkan dibutuhkann jam lembur maka saya bisa menyimpulkan bahkan kinerjanya buruk.

Sering kali pula saya pada saat sesi coaching dengan client dan saya memberikan sebuah tugas sebelum lanjut ke sesi coaching berikutnya. Dan ketika pertemuan berikutnya terjadi al hasil ada tugas yang belum terselesaikan dengan alasan tidak ada waktu, maka seketika saya langsung katakan “mohon maaf saya tidak bisa melanjutkan jika tugas yang saya berikan belum terselesaikan!”. Disamping tugas sebagai coach yang mendampingi client, saya menekan sebuah disiplin dan management waktu terhadap coachee, karyawan bahkan pada diri saya pribadi. Karena saya menyadari waktu adalah anugrah yang besar yang jika kita tidak memanfaatkan dengan benar maka kita menjadi orang yang celaka dimasa depan dan hanya penyesalan yang kita dapatkan. Waktu itu boomerang yang ketika kita salah dalam mengatur target maka kita akan mendapatkan hal kosong dan boomerang itu justru mencelakakan kita sendiri.

  • Yang Penting Hidupku Happy

Hidup ini sebentar maka harus aku nikmati sepuas-puasnya agar kelak dimasa tua ku tidak hadir penyesalan bahwa aku belum melakukan sesuatu saat aku masih mudah. Alasan ini sekilas membahagiakan tetapi pada hakikatnya adalah menghancurkan. Bukan hanya masa tua yang hancur tetapi masa muda yang juga berantakan tidak terarah. Alasan ini sering saya temukan pada kawula muda saat ini. Mereka ingin bebas tanpa batas, happy tanpa aturan, mereka ingin melakukan sesuka hatinya. Mereka tidak mau terkekang oleh batas dan aturan bahkan waktu sekalipun. Jika kita masih mempunyai alasan ini sebagai prinsip hidup maka berhati-hatilah, selain kita menjadi manusia liar kita juga menjadi manusia yang tidak mempunyai rasa emosional yang bagi bagi diri maupun orang sekitar. Karena sesuatu yang bisa membuat dia mau melakukan adalah sesuatu yang hanya membuat dia senang tanpa adanya tekanan. Jika dia sesuatu itu membuat dia merasa tertekan maka bisa dipastikan dia tidak mau melakukan. Ditambah lagi mereka banyak mempunyai prinsip tambahan “Hidup kok dibuat ribet, woles aja” . Makin lengkap sudah karakter pribadi manusia tersebut menjadi manusia yang tidak produktif dan dipastikan susah jika diajak berfikir manfaat untuk sosial bahkan untuk masa depan dia sendiri.

“Satu-satunya kekecewaan yang tidak ada obatnya adalah penyesalan terhadap diri ketika dimasa lalu masih diberikan waktu & kesempatan tetapi kita tak mampu memanfaatkanya”

  • Ku lakukan sesuai apa yang Ku dapatkan

Alasan ini sering saya jumpai pula di kalangan karyawan perusahaan. Mereka begitu perhitungan tanpa loyalitas jika terkait pekerjaannya. Padahal mereka sendiri mengetahui target yang di berikannya belum tercapai alias dibawah target standartnya. Tetapi mereka masih tetap mempunyai alasan bahwa mereka hanya mau melakukan sesuai apa yang mereka dapatkan. Jika ada penambahan tugas atau wwaktu kerja maka wajib terhitung tambahan gaji atau isentif lainnya. Keegoisan telah tumbuh pada manusia yang mempunyai alasan ini. Dan saya pribadi pernah memecat seorang karyawan saya saat berbicara hal tersebut di hadapan saya. Karena sudah dipastikan jika saya mempunyai team seperti itu maka perusahaan yang saya bangun tidak akan pernah bisa scale up.

Begitu pula ketika saya menjumpai seoarang rekan yang ketika dimintai pertolongan mereka berkata “Wani Piro (berani berapa)?” seketika itu saya mengurungkan niat saya meminta pertolongannya, karena saya tahu seberapapun saya berikan bisa dipastikan pertolongan atau pekerjaan itu tidak akan selesai dengan maksimal. Dia akan mengulur-ulur waktu untuk meminta atau mendapatkan kembali sesuatu yang dia ingin dapatkan dari saya.  

Jika Anda masih mempunyai alasan atau prinsip seperti diatas saran terbaik saya adalah renungkan kembali, tidak semua yang kita lakukan harus mendapatkan imbalan. Ada kalanya kita perlu menabung energi kebaikan yang suatu saat bisa nikmati dikala benar-benar membutuhkannya. Tuhan tidak akan pernah lupa terhadap kebaikan yang kita lakukan, dan pasti terbalas olehNYA. Jika kita berfikir bahwa semua wajib ada imbalannya, maka kita tidak punya tabungan kebaikan yang bisa kita nikmati dimasa depan kelak dan justru membuat kita semakin sengsara.

  • Menunda-nunda Segala sesuatu

JIka diatas dijelaskan alasan manusia merasa dirinya kurang tidak ada waktu, kini justru manusia tersebut merasa bahwa waktu nya masih sangat panjang. Sehingga dia suka menunda-nunda sebuah aktifitas ataupun pekerjaan. Jika mereka yang merasa tidak ada waktu disebabkan oleh tidak bisa mengatur waktu dengan efisien , kali ini mereka justru sama sekali tidak merencanakan. Mereka hanya berfikir bahwa waktu berjalan sesuka dirinya sendiri, kapanpun mereka mau lakukan maka akan mereka lakukan. Mereka lupa akan 2 hal sifat dari waktu yaitu tidak akan pernah terulang dan waktu itu punya Batasan. Waktu sudah dipastikan tidak akan pernah bisa mundur kembai, dan Batasan waktu bagi manusia adalah kematian yang manusia sendiri tidak tau kapan kematian itu datang.

Bagi Anda yang masih mempunyai alasan atau prinsip diatas maka saran terbaik saya adalah kembali fikirkan 2 hal sifat waktu tersebut. JIka sekarang usia kita semakin menua maka fikirkan apa sumbangsi terbaik yang sudah kita berikan bagi keluarga, sosial bangsa dan negara. Jika kita masih menunda-nunda aktifitas kebaikan kita maka sudah siapkah kita menghadapi kematian yang kita sendiri tidak tahu kapan menjemput kita. Sudah siapkah bekal kebaikan yang kita siapkan untuk menghadap Sang Pengatur Kehidupan. Bagaimana jika hari ini adalah hari terakhir kehidupan kita sedangkan kita masih belum memberikan sebuah manfaat sekecilpun pada diri, keluarga maupun sekitarnya. Renungkan kembali waktu yang Alloh berikan kepada kita saat ini sebelum akhirnya kita menyesal kelak saat kita sudah tersadar bahwa kita sudah berada di liang lahat.

Sebenarnya masih banyak alasan-alasan pembenaran yang sering saya temukan ketika bertemu dengan orang-orang disekitar yang membuat mereka belum mempunyai karya terbaik yang bisa diberikan kepada banyak orang.

Menjadi Personal Excellence adalah menjadi pribadi yang produktif yang bisa menghasilkan banyak karya dan disetiap karya tersebut terbalut nilai-nilai spritiual yang ditujukan untuk meraih ridho Sang Illahi robbi atas dirinya. Dalam hal ini jika Sang Illahi yang menjadi tujuan terbesar hidupnya maka menjadi personal excellence tidak hanya di satu sisi saja, tetapi di semua sisi kehidupan. Dimanapun kaki kita berpijak maka disitulah kita bisa memberikan manfaat kebaikan bagi sekitarnya. Jika Anda berkarir maka berkarirlah dengan niat mencari RidhoNYA bukan mencari muka dihadapan manusia lainnya. Jika Anda mempunyai keluarga maka lakukan peran Anda di keluarga untuk mencari RidhoNYA, Jika Anda berbisnis maka berbisnislah dengan mencari RidhoNYA bukan semata-mata keuntungan pribadi yang besar. Jika Anda menjadi seorang pemimpin maka pimpinlah team dan rakyat Anda untuk mencari RidhoNYA, Anda tidak akan mengkhianati amanah jabatan yang diberikan kepada Anda karena Anda tidak ingin Alloh marah terhadap anda.

“Jika hidup tidak sibuk pada kebaikan maka bisa jadi saat ini kita disibukkan oleh keburukan”

Setelah Anda memahami Prinsip Personal Excellence, Siapakah Personal Excellence, serta alasan-alasan yang menghambat manusia menjadi personal Excellence maka selanjutnya kita akan sharingkan bagaiama Pola NLP yang bisa membantu kita lebih mudah menjadi PERSONAL EXCELLENCE

penulis
admin

Tulisan Lainnya

  • https://178.128.103.155/
  • https://146.190.103.152/
  • https://157.245.157.77/
  • https://webgami.com/
  • https://jdih.pareparekota.go.id/wp-content/uploads/asp_upload/
  • https://disporapar.pareparekota.go.id/-/
  • https://simarta.unnes.ac.id/uploads/-/
  • https://inspektorat.lebongkab.go.id/-/slot-thailand/
  • https://pendgeografi.ulm.ac.id/wp-includes/js//
  • https://dana123-gacor.pages.dev/
  • https://dinasketapang.padangsidimpuankota.go.id/-/slot-gacor/
  • https://bit.ly/m/dana123
  • https://mti.unisbank.ac.id/slot-gacor/
  • nagamenslot
  • ngamenslot>
  • ngamenslot
  • http://perpus.wiraraja.ac.id/